TINTA NUSANTARA
BERANI MENYIKAP TABIR

Semakin Panas Pasca Pemain Patungan Beli Minyak Bus

TINTANUSANTARA.CO.ID, SUNGAI PENUH – Pasca beredarnya video pemain PS Kota Sungai Penuh patungan untuk membeli minyak bus pulang dari Gubernur Cup, PSSI dan KONI saling buka-bukaan, dan terungkap bahwa manager tim PS Kota Sungai Penuh adalah seorang kontraktor.

Ade Utama, pengurus harian PSSI Kota Sungai Penuh. Ade dengan tegas menyampaikan bahwa PSSI hanya diberi tanggung jawab untuk mengumpulkan tim kesebelasan PS Kota Sungai Penuh dalam waktu 8 hari, setelah itu PSSI ditinggalkan dan diambil alih oleh KONI Kota Sungai Penuh.

“Seharusnya memang demikian (tanggung jawab PSSI,red). Tapi realitanya dilapangan tdk demikian. Awalnya kita memang diminta untuk menyiapkan tim dalam waktu 8 hari, sudah kita siapkan. Tapi setelah itu untuk masalah selanjutnya kita tidak dilibatkan, apalagi masalah keuangan,” ungkap Ade melalui pesan WhatsApp.

Ade juga menyentil, jika pengelolaan diserahkan kepada orang yang tidak tepat, tentu hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

“Mohon maaf, kalau lah yang mengurus bola orang yang tidak mengerti bola, begini lah jadinya. Sekarang mencari kambing hitam. Sportif bae, manejer Andok Uyun, pelatih Rahmat dan Niko,” ungkapnya.

Manajer tim dalam sepak bola, atau barangkali juga cabang olahraga lain rupanya mempunyai peranan penting. Seorang manajer berperan dalam mengelola semua aspek organisasi, administrasi, dan komunikasi tim. Mereka pula yang akan menjadi penghubung antarklub dan tim di suatu lingkup organisasi maupun ajang/pertandingan. Diketahui, Andok Uyun dikenal di Kota Sungai Penuh adalah seorang kontraktor.

Sementara itu Ketua KONI Kota Sungai Penuh, Ori Saputra, juga menuding pihak PSSI Kota Sungai Penuh yang mestinya paling bertanggung jawab atas pelaksanaan dan kegiatan pertandingan Gubernur Cup untuk membawa pemain PS Kota Sungai Penuh.

“Liga 3 yang diurus Ade Utama itu, honor pemain tidak dilunas. Kita karena tidak mau terhutang tentang hak pemain, kita bekerja keras nyari sponsor,” ungkapnya kepada wartawan.

Sementara itu, informasi yang dihimpun, untuk ikut serta Gubernur Cup tidak dianggarkan dalam APBD. Namun dari pendanaan dari sponsor kabarnya mencapai Rp 148 Juta, namun kabarnya masih terhutang Rp 10 juta. Hal tersebut kabarnya juga sudah disampaikan kepada Ketua PSSI Sungai Penuh.

Disisi lain, dibeberapa media online, Ketua KONI Sungai Penuh terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan persoalan di PSSI yang notabene diketuai oleh Alvia Santoni, Wakil Walikota Sungai Penuh saat ini. Dengan turun tangannya Ketua KONI untuk menyelesaikan masalah PSSI, seolah menyelamatkan “wajah” Wakil Walikota dari Cabang Olahraga (Cabor) yang diketuainya yang terkesan dinilai bermasalah.

Tidak hanya itu, Ketua KONI dan juga Jondri dan Kadispora, dalam persoalan PSSI juga dikaitkan dengan memperpanjang kontrak honorer di Dinas PU Sungai Penuh, karena beberapa pemain PS Sungai Penuh merupakan honorer di Dinas PU.

Dalam keikutsertaan di Gubernur Cup, Ketua KONI dan Kadispora Sungai Penuh, Jon Fitra Jaya, berjuang keras dalam mencari sponsor dan sumbangan.

“Dari awal Ade tidak dilibatkan dalam tim yang menggodok Persiapan Gubernur Cup 2022, tiba-tiba dia muncul pada tahapan seleksi dan menyiapkan kebutuhan tanpa ada Koordinasi dengan tim. Munafik Ade Utama mengatakan PSSI tidak dilibatkan, dari awal Dede Pramurza Bendum PSSI dan juga Duskimin Sekjend PSSI selalu berkolaborasi dengan tim  Ori Saputra dan Don Fitri jaya, segala sesuatu Tentang administrasi itu diurus oleh Dede Pramurza dan Duskimin yang merupakan pengurus inti PSSI sungai penuh,” dikutip dari salah satu media online.

“Ade utama rencana memang sengaja tidak dilibatkan karna Ade utama sudah jadi pengurus ASPROV Jambi tapi dia melibatkan diri mulai dari mesan puding latihan, mesan baju tanding, menyeleksi pemain dan menunjuk pelatih,” lanjutan kutipan dari media online tersebut. (Wardizal)