Dugaan Intimidasi dan Kekerasan Murid Mencuat di SDN 10 Baringin Tanah Datar

0

Tanah Datar, Tintanusantara.co.id – Dugaan praktik intimidasi terhadap murid, perlakuan istimewa terhadap anak guru, hingga indikasi kejanggalan administrasi mencuat di lingkungan SDN 10 Baringin, Kabupaten Tanah Datar.

Seorang wali murid berinisial VS mengaku anaknya, GKR, siswa kelas 1 SD, diduga menjadi korban kekerasan berulang oleh seorang siswa yang disebut merupakan anak salah seorang guru di sekolah tersebut.

Menurut VS, insiden terakhir terjadi pada 4 Mei 2026, ketika anaknya mengaku ditendang di bagian kemaluan oleh siswa berinisial HZA. Ia menyebut peristiwa itu bukan yang pertama, karena sebelumnya anaknya juga pernah mengalami luka di bagian bibir dan hidung yang diduga akibat tindakan siswa yang sama.

“Yang membuat saya kecewa, kejadian ini sudah berulang dan terakhir anak saya ditendang di bagian vital hingga menangis kesakitan,” ujar VS.

Selain dugaan kekerasan, VS juga mempertanyakan penanganan pihak sekolah. Ia mengaku anak sulungnya yang sedang mengikuti ujian kelas 6 sempat dipanggil ke kantor sekolah saat proses ujian berlangsung, sehingga dinilai mengganggu konsentrasi dan kondisi psikologis anak.

Saat mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan, VS mengaku tidak puas dengan penyelesaian yang dilakukan pihak sekolah. Menurutnya, persoalan dianggap selesai dengan alasan para siswa telah saling memaafkan.

VS juga mengungkap adanya informasi mengenai dugaan keterlibatan salah seorang guru dalam proses pemeriksaan siswa, yang menurutnya berbeda dengan penjelasan yang diterimanya saat meminta klarifikasi.

Lebih lanjut, ia mengaku menerima informasi dari sejumlah pihak terkait dugaan perilaku agresif siswa tersebut terhadap murid lain pada waktu sebelumnya. Bahkan, pemasangan CCTV di kelas 1 disebut dilakukan setelah adanya insiden serupa.

Persoalan ini kemudian dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. VS meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lingkungan sekolah dan mekanisme penanganan konflik antarsiswa.

Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan transparansi pengelolaan Dana BOS serta dugaan kejanggalan administrasi terkait status salah seorang guru yang disebut sebelumnya bertugas sebagai operator sekolah namun lolos seleksi PPPK jalur prioritas guru.

Sementara itu, pihak sekolah melalui pesan singkat menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan dan berharap masalah tidak kembali diperpanjang demi menjaga kenyamanan proses belajar mengajar.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SDN 10 Baringin maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar terkait berbagai dugaan yang disampaikan wali murid tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut keamanan peserta didik di lingkungan sekolah serta profesionalitas tenaga pendidik dalam menangani konflik antar siswa.

(*/Red)