Berani Menyikap Tabir

Selama Pandemi, Tak Pernah Terima Bantuan Beras Sebutirpun

40 Tahun Jadi Pembuat Tempe

Pasutri pembuat tempe di kelurahan Suka Sari yang mengeluh akibat tingginya harga kedelai. Foto:rayan

TINTANUSANTARA.CO.ID, SAROLANGUN –  Cahyono (62), bersama sang istri Waria, warga Kelurahan Suka Sari, Kecamatan Sarolangun terus berusaha keras dalam menjalani usahanya sebagai pembuat tempe.

Usaha itu ternyata sudah dilakoninya sejak lama, hampir mencapai 40 tahun dalam berupaya memenuhi kebutuhan tempe dan tahu untuk masyatakat Sarolangun.

Namun, saat ini mengingat harga kedelai yang kini tak bersahabat dengan Cahyono, sehingga menjadi kendala bagi mereka untuk membuat tempe dengan keterbatasan modal, karena cahyono salah satu dari sekian banyak pembuat tempe di kabupaten Sarolangun yang sangat terdampak dengan naiknya harga kedelai yang melambung tinggi di Indonesia.

“Dari zaman Suharto saya buat tempe dan tahu,” katanya Waria, Istri Cahyono, Rabu (06/01) kemarin.

Waria juga merasa berat menjalani profesinya sebagai pembuat tempe dan tahu, sehingga 3 atau 2 tahun lalu, ia berhenti dalam membuat tahu karena keterbatasan tenaga suaminya Cahyono, yang semakin tua dan tak banyak memiliki tenaga.

“Sebab membuat tahu butuh tenaga ekstra berkutat dengan kayu api yang panas di tungku pengorengan dan tempat pengolahan,” katanya.

Kini sepasang suami-istri itu hanya mampu membuat tempe saja, tak pernah terbayang harga tempe kini telah melambung tinggi, sulit baginya, keterbatasan tenaga dan modal menjadi kendala pokok bagi pasutri tersebut.

Ia bercerita, dulu mereka sempat merasa senang waktu itu, sebab rumahnya di datangi oleh Bupati Sarolangun semasa itu masih di jabat oleh Hasan Basri Agus atau yang lebih di kenal HBA.

“HBA sewaktu jadi bupati pernah kesini melihat tak ada yang di tinggalkannya, bantuan atau apapun. Kok datang bae padahal dia ninggok rumah dah bocor- bocor, kok dak ada ngasih solusi atau bantuan,” beber waria.

Selama 40 tahun memberikan kebutuhan tempe dan tahu, cahyono dan waria hanya di beri bantuan 2 kuali dan 2 buah tungku oleh pemerintah, ia lupa siapa yang memberikannya, karena hal itu sudah sangat lama.

Kalau soal pajak, waria tiap tahun selalu di datangi orang pajak dan membayarnya, namun bantuan modal ataupun bantuan Covid-19 sebutir beras saja tak dapat di rasakan pasangan itu.

Hidup terasa kurang adil baginya, sebab beberapa pedagang di pasar mengklaim ia tergolong mampu, namun nyatanya rumah tua yang ia tinggal sekarang, hanya beton di bagian depan saja itupun ukuran sangat kecil, belum lagi bagian produksi tempenya papan tua yang rentan rubuh,  terasa sempit di tambah lagi dengan bahan-bahan tempe yang memenuhi sudut rumahnya.

Cara Cahyono saat harga kedelai tak bersahabat baginya, ia mengurangi porsi kedelai yang di bungkus dengan plastik ukuran seperempat kilogram.

“Ya di kurangi dikit, karena kedelai mahal. Semoga pembeli mengerti,” ungkap Cahyono dengan umur yang tidak produktif lagi untuk mencari nafkah.

Cahyono dan waria memiliki 5 anak, 4 anaknya mengikuti jejaknya sebagai pembuat tempe hampir seluruh anaknya mengikuti jejak Cahyono dan Waria, hanya satu anaknya yang sukses di Jakarta menjadi Tentara.

Ia mengakui pendapatan tak menentu saat virus corona datang di tambah lagi dengan naiknya harga kedelai, ia tak berharap terlalu besar bagi usahanya, hanya membutuhkan bantuan modal sebab Covid-19 dan kedelai bergejolak pembuatan tempe semakin tak menentu.

Cahyono dan Waria menjual tempenya dengan harga 5 ribu tiga bungkus tempe yang berukuran seper empat kilo.(yan)