Dari Pasar Seni Ancol, Denny Chandra Gaungkan ‘Revolusi Budaya’ Anak Bangsa: Abang None Cilik Jadi Benteng Melawan Krisis Identitas

 

 

JAKARTA – tintanusantara.co.id – Di tengah derasnya arus globalisasi yang semakin memengaruhi gaya hidup generasi muda, sebuah pesan kuat menggema dari panggung Pemilihan Abang None Cilik di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, Minggu (28/6/2026), Bukan sekadar ajang pencarian bakat, kegiatan ini dinilai sebagai investasi budaya untuk mencetak generasi yang mengenal akar sejarah, mencintai warisan leluhur, dan siap menjaga jati diri bangsa.

Sorotan tersebut disampaikan seniman sekaligus budayawan Denny Chandra yang hadir memberikan dukungan kepada para peserta, Menurutnya pelestarian budaya tidak bisa menunggu hingga seseorang dewasa, Nilai-nilai budaya harus diperkenalkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan anak-anak Indonesia.

Denny menegaskan bahwa setiap anak memiliki keterikatan dengan daerah tempat mereka dilahirkan, Karena itu mereka tidak hanya memiliki hak menikmati hasil pembangunan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya, kehidupan sosial, hingga kemajuan daerahnya,”Bila anak-anak mengenal budayanya sejak kecil, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitasnya sendiri, Itulah benteng paling kuat menghadapi pengaruh budaya luar yang terus masuk tanpa batas,” ungkapnya.

Ia menilai budaya merupakan kekuatan bangsa yang sering kali terlupakan,Di tengah persaingan global, kekayaan tradisi, bahasa, kesenian, hingga adat istiadat justru menjadi modal besar yang mampu memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

Dalam pandangannya, keberadaan Abang None Cilik menjadi ruang penting untuk membangun kepercayaan diri generasi muda, Ajang tersebut bukan hanya melahirkan pemenang, tetapi juga memberikan pengalaman belajar mengenai sportivitas, keberanian tampil, kemampuan berkomunikasi, hingga penghargaan terhadap budaya sendiri.

Denny juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi berbeda yang tidak selalu terlihat dalam satu perlombaan,Karena itu menurutnya, tugas para pembina, orang tua, dan dewan juri adalah memberikan ruang agar bakat tersebut dapat berkembang secara maksimal.

 

Selain menyoroti pelestarian budaya, Denny menyampaikan keprihatinannya terhadap pola pembelajaran sejarah yang dinilai lebih banyak mengangkat kisah penjajahan dibanding kejayaan Nusantara,Padahal Indonesia pernah memiliki peradaban besar yang menjadi kebanggaan dunia.

 

Menurutnya, pengenalan sejarah kejayaan bangsa, termasuk lahirnya mahakarya seperti Candi Borobudur sejak berabad-abad silam, penting ditanamkan kepada anak-anak agar mereka tumbuh dengan rasa percaya diri sebagai bagian dari bangsa yang memiliki peradaban tinggi.

Tak berhenti pada isu budaya, Denny turut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, Ia menegaskan bahwa warisan paling berharga bagi generasi mendatang bukan semata kekayaan materi, melainkan alam yang tetap terjaga, udara yang bersih, dan sumber air yang sehat.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung penyelenggaraan kegiatan-kegiatan budaya seperti Pemilihan Abang None Cilik, Menurutnya kritik yang disampaikan hendaknya bersifat membangun agar kualitas penyelenggaraan semakin baik, sementara semangat melestarikan budaya tetap menjadi tujuan utama.

Melalui panggung sederhana di Pasar Seni Ancol, pesan besar itu kembali ditegaskan: membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar, tetapi juga dari keberanian mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini.

Sebab, di tangan generasi yang mengenal jati dirinya, warisan budaya Nusantara diyakini akan tetap hidup dan menjadi kekuatan bangsa di masa depan.

(Nila)

Baca Juga

BERITA TERBARU

Trend Minggu ini