
GAYO LUES – tintanusantara.co.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara telah mengerahkan 21 personel untuk menjalankan misi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Rombongan ini dipimpin oleh Ketua PMI Jakarta Utara, Rijal.
Perjalanan menuju lokasi bencana membutuhkan waktu lama dan harus melalui medan yang sulit, namun semangat kemanusiaan para relawan tetap tinggi demi membantu mereka yang membutuhkan. Menurut Rijal, kehadiran PMI Jakarta Utara di tengah masyarakat terdampak merupakan bentuk panggilan nurani yang tidak dapat ditawar.
“Kami datang bukan hanya membawa obat-obatan dan tenaga medis, tetapi juga membawa kepedulian serta harapan. Dalam kondisi sulit, PMI harus tetap hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya pada hari Rabu, tanggal 14 Januari.

Tim kemanusiaan tersebut terdiri dari satu dokter, dua perawat, satu apoteker, 14 relawan, serta tiga pengurus PMI. Selama masa penugasan yang berlangsung 21 hari, kegiatan yang akan difokuskan meliputi pelayanan kesehatan, pendampingan psikososial, serta trauma healing, khususnya bagi anak-anak korban bencana.
Medan menuju desa-desa terdampak di Gayo Lues tergolong ekstrem. Akses jalan yang tersedia sempit dan terjal, sehingga hanya dapat dilalui oleh kendaraan berpenggerak empat roda (4×4). Bahkan pada saat hujan turun, jalur tersebut memiliki potensi untuk terputus.
“Kondisi itu tidak menyurutkan semangat relawan kami. Justru semakin menguatkan tekad untuk menjangkau warga yang membutuhkan bantuan,” ungkapnya.
Tim kemanusiaan berangkat dari Jakarta pada tanggal 10 Januari 2026 menggunakan lima armada kendaraan. Empat di antaranya dikirim melalui pesawat Hercules, sedangkan satu kendaraan lainnya melakukan perjalanan melalui jalur darat.
“Alhamdulillah, cuaca cerah sangat membantu perjalanan. Kami tiba dengan selamat di ibu kota Kabupaten Gayo Lues pada tanggal 11 Januari 2026 pukul 20.10,” ucapnya.
Setelah tiba di lokasi, tim PMI Jakarta Utara langsung melakukan sejumlah langkah awal seperti pemetaan desa terdampak, penyiapan kebutuhan bahan bakar, serta memastikan seluruh kendaraan dalam kondisi siap digunakan.
“Langkah ini dilakukan agar pelayanan kepada warga dapat berjalan secara optimal,” imbuhnya.
Selanjutnya, tim bergerak menuju Kecamatan Pining, tepatnya ke Desa Pepela, Desa Pintu Rime, dan Desa Enka. Semua desa tersebut hanya dapat dijangkau dengan kendaraan 4×4. Tanpa menunda waktu, tim langsung membuka layanan kesehatan bagi para pengungsi.
“Warga menyambut kami dengan sangat hangat. Banyak yang mengeluhkan kelelahan, penyakit kulit, hingga trauma pascabencana,” jelasnya.
Selain memberikan layanan medis, tim juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak. Hal ini dilakukan karena masih banyak anak yang mengalami ketakutan dan trauma akibat bencana yang mereka alami.
“Kami melakukan pendekatan melalui permainan dan pendampingan psikososial agar anak-anak dapat kembali tersenyum dan merasa aman,” tambahnya.
Rijal berharap, kehadiran PMI Jakarta Utara dapat membantu meringankan beban masyarakat terdampak sekaligus menjadi penguat semangat bagi mereka untuk bangkit kembali.
“Kami berkomitmen menjalankan operasi kemanusiaan ini secara maksimal selama 21 hari. Fokus kami adalah pelayanan kesehatan, pemulihan psikologis, serta memastikan warga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana ini,” tandasnya.
(Amin-tim-AJB)

